Jumat, 29 September 2017

Bukit Pengilon, Pesona Bukit di Tepi Pantai Selatan, Gunung Kidul

Gunung Kidul memang terkenal dengan Objek Wisatanya yang murah tapi tidak murahan.

Mau lihat Pantai, Gunung, Bukit, Air Terjun, Goa semuanya ada.

Sedikit berbagi pengalaman saya melihat keindahan alam bukit indah di tepi Pantai Selatan, Bukit Pengilon. Bukit satu ini mungkin masih asing di telinga, karena belum sepopuler Puncak Kosakora, tapi pemandangan Bukit ini luar biasa indahnya, selain masih alami, berada di bukit ini terasa sungguh tenang dan damai.

Bukit Pengilon, Gunung Kidul


Lokasi Bukit Pengilon
Bukit Pengilon berada di Dusun Ngelo, Desa Balong, Kecamatan Girisubo, Kab. Gunung Kidul, Jogjakarta. Dari Jogjakarta kurang lebih memakan waktu perjalanan 2,5 jam.

Cara Menuju Bukit Pengilon
Ada 3 Rute untuk bisa mencapai Bukit Pengilon : 

1.  Via Pantai Wediombo
Jika memilih rute ini, anda harus trekking melewati Pantai Watu Lumbung, berjalan terus ke barat, dan nantinya akan tiba di Bukit Pengilon.
2. Mengikuti Petunjuk Arah Bukit Pengilon 
Awalnya kami sempat mengikuti petunjuk arah ke Bukit Pengilon yang terpampang di pertigaan menuju Pantai Siung. Saya sempat diberitahu oleh penduduk setempat, bahwa jalur yang ditunjukan petunjuk arah tersebut bisa dilewati motor sampai ke pintu masuk menuju Air Terjun Banyu Tibo namun medannya masih tanah berpasir jadi sedikit licin, tapi lebih dekat jarak trekking-nya menuju Bukit Pengilon. Jadi, kalau anda ingin mengunjungi Air Terjun Banyu Tibo ataupun Bukit Pengilon namun tidak mau trekking terlalu jauh, anda bisa naik motor mengikuti petunjuk arah  'Bukit Pengilon' yang terpampang mulai dari pertigaan menuju Pantai Siung.

3. Via Pantai Siung
Rute ini yang kami pilih karena memang kami sengaja ingin merasakan sensasinya trekking menyusuri tebing pantai selatan.
Kendaraan Motor / Mobil diparkir di Pantai Siung, kemudian jalan kaki kesebelah kiri dari bibir pantai atau bisa tanya nelayan sekitar arah ke Bukit Pengilon, dan mereka akan tunjukan jalan pasir setapak yang menanjak arah ke Bukit Pengilon. Disini kita akan dipungut retribusi Rp. 2.000/orang. Dengan rute pantai Siung ini kita juga akan melewat Air Terjun Banyu Tibo (air terjun musiman yang ada hanya di musim hujan).
Sepanjang perjalanan menanjak ini kita akan berdecak kagum melihat keindahan  deburan ombak pantai Siung dari atas tebing.
Pantai Siung dari Atas Bukit
Tapi harus berhati-hati karena jalanan licin dan disebelah kanan kita langsung Jurang tanpa ada pembatas. Setelah melewati Tanjakan kita akan menyusuri ladang - ladang penduduk sekitar kurang lebih 20 menit sebelum sampai ke lokasi Air Terjun Banyu Tibo. Untuk memasuki kawasan Banyu Tibo akan dipungut biaya retribusi Rp. 3.000/orang. Air Terjun Banyu Tibo merupakan air terjun yang unik karena langsung mengalir ke laut, tapi sayang ketika kemarin saya kesana, airnya kering karena musim kemarau. 

Medan yang harus dilalui dari Pantai Siung menuju Bukit Pengilon

Lokasi Air Terjun Banyu Tibo, Gunung Kidul
Puas menikmati semilir angin di Banyu Tibo, kami melanjutkan perjalanan menuju Bukit Pengilon. Sepanjang perjalanan kita harus extra hati-hati karena kita melewati jalan setapak menyusuri bukit yang sebelah kanan nya langsung jurang ke laut selatan. Perjalanan dari Banyu Tibo menuju Bukit Pengilon kurang lebih 30 menit berjalan santai dengan jalanan yang sedikit menanjak dan menurun.
Trekking dari Banyu Tibo menuju Bukit Pengilon
Sebelum memasuki kawasan Bukit Pengilon ada kotak retribusi Rp. 2.000/orang. Setelah melewati pos retribusi kita disuguhi pemandangan nan eksotis Pantai Pengilon yang diapit dua bukit ini.
Untuk anda yang ingin melihat sunset, bisa bermalam di bukit ini karena ada area Camping Ground yang sudah disediakan, tapi jangan buang sampah sembarangan dan jangan lupa bawa turun lagi sampahnya ya.
Perpaduan padang rumput, bukit dan pantai yang indah ini sungguh sempurna dan worth it untuk liburan kami kali ini.




Senin, 11 September 2017

Jalan-Jalan ke Malang, Banyuwangi dan Pulau Menjangan

Blue Fire..


Konon katanya si Api Biru ini hanya ada 2 di dunia, yang pertama di Islandia dan yang kedua di Indonesia. 
Berhubung untuk saat ini gak mungkin saya lihat yang di Islandia, ya sudah yang deket aja dulu 😁

Kali ini saya mau share pengalaman saya jalan-jalan di Malang & Banyuwangi bulan Januari 2016 kemarin.
Karena sering lihat video-video Pesona Indonesia,  jadilah kepingin banget lihat Kawah Ijen. 
Ok, akhirnya saya ajakin itu temen-temen yang biasa jadi rekan seperjalanan dan ternyata banyak yang mau ikutan juga, dan akhirnya kita pergi 9 orang. Rame aje ya..Dan kebetulan dapet tiket promo Jkt - Sby pulang pergi by Air Asia cuma Rp. 600.000 pas! berangkat kita.....


13 - 17 January 2016 (Rabu s.d Minggu)  
Day 1, Rabu
Dapat tiket murah di hari rabu jam 22.30 malem dan sampai Bandara Juanda jam 23.35. Sayang banget nih karena waktu sampainya kemaleman, jadi gak bisa langsung nyambung kereta ke Banyuwangi, karena kereta Sby-Banyuwangi paling malam jam 22.00. Ya udah akhirnya kita putusin klo kita jalan-jalan di Malang dulu dan nyambung kereta ke Banyuwangi-nya dari Malang aja. 

Day 2, Kamis
Jam 1 malam kita dijemput mobil Elf sewaan untuk antar kita dari Bandara Juanda (Sby) ke Batu Malang, dan sampai di Batu jam 3 subuh. Keder mau kemana nih jam segini, untungnya ada warung Pos Ketan yang terletak di alun-alun Batu yang buka sampai jam 5 pagi. Setelah solat subuh di Mesjid Agung An-Nur yang terletak di alun-alun, kita langsung cus ke destinasi pertama, Pemandian Air Panas Cangar. Boooo, ini jauh banget ternyata. Kurang lebih 1 jam perjalanan dari Batu dengan jalanan aspal yang mulus, menanjak dan pemandangan kiri kanan pegunungan. Cangar ini berada diperbatasan antara Batu dengan Mojokerto, ya Alloh pantesan jauh.. 

- Pemandian Air Panas Cangar, Batu Malang.
Karena sampai sana jam 6 pagi, masih sepi jadi bebas lah mau cebar-cebur gaya apapun. Ada 3 kolam disana, kolam pertama: kolam khusus untuk wanita (airnya adem-ademnya kaya air pipis. hehehe..), kolam kedua: kolam campur yang airnya hangat menjurus ke panas, kolam ketiga: macam kolam renang dan harus bayar lagi klo mau masuk kesitu. Harga Tiket Masuk (HTM): Rp. 5.000,- Kesimpulannya, Pemandian ini biasa aja, banyak sampah bo..sedih lihatnya, tapi gak rugi kesini karena pemandangan menuju Cangar ini indah banget.  

- Jatim Park 2, Batu Malang
Jam 10 pagi kita udah masuk ke Jatim Park 2. HTM Paket Rp. 75.000/orang bisa untuk tiket ke Batu Secret Zoo, Eco Park, Musium Satwa, dan Musium Tubuh (Bagong). Kalo mau puas kesini harus sediain minimum 4 jam untuk bisa menjelajahi semuanya. Kesimpulannya, Jatim Park 2 ini cocok banget untuk liburan keluarga, binatang di Secret Zoo nya lucu-lucu dan banyak yang baru pernah saya lihat disini. Arena permainannya lumayan ok untuk anak-anak dan dewasa pun, Musium Satwa-nya juga bagus banget. Cuma sayang kita ga sempet ke Musium Tubuh karena jam 15.55 kita sudah harus cus ke Banyuwangi. Oia, dilarang bawa makanan ke dalam kawasan ini, tapi gak usah khawatir karena harga-harga makanan didalem murah-murah juga kok..*gak kaya di Dufan lah pokoknya..
Jam 15.55 kereta datang dan sampai di Banyuwangi jam 23.30 malam (7.5 jam, lumayan lah bisa tidur telentang karena kereta ekonominya lagi kosong). Kita turun di St. Karangasem, satu stasiun sebelum stasiun terakhir, Banyuwangi Baru, karena lebih deket ke homestay. Sewa angkot Rp. 70.000.

Day 3, Kamis - Taman Nasional Baluran, Pantai Pulau Merah.
- Taman Nasional Baluran
Banyak orang yang ngira klo Baluran ini terletak di Banyuwangi, padahal sebenarnya di Situbondo. Jarak dari Kota Banyuwangi ke Baluran adalah 1.5 jam. HTM wisatawan lokal Rp. 15.000 dan untuk wisatawan mancanegara a.k.a Bule Rp. 150.000/orang..Wow banget ya si bule-bule lumayan bengong pasti, karena selisih harganya.

Taman Nasional Baluran - Situbondo


Gunung Baluran - Situbondo

 - Pantai Merah
Dari Baluran kita ke Pantai Merah. Ternyata salah bikin itinerary nih..karena beda arah, jarak dari Baluran ke Pantai Merah itu jauh banget, naik mobil 3 jam perjalanan.
Sampe sana gak kecewa sih karena cantik banget itu pantai. Di tengah-tengah pantainya ada pulau kecil yg bikin pemandangannya lebih cantik lg.
Advice buat kalian yang mau ke pantai ini, bisa bikin itinerary sekalian ke Pantai Teluk Ijo atau biasa disebut Greenbay, karena lokasinya gak terlalu jauh satu sama lain.

Indahnya Sunset di Pantai Merah - Banyuwangi
                                                         
Day 4 - Kawah Ijen & Pulau Menjangan Bali
- Kawah Ijen
Jam 2 subuh kita sudah siap-siap mau trekking ke Kawah Ijen. Perjalanan dari homestay sampai pintu masuk Kawah Ijen kurang lebih 1 jam. Jam 3 pagi kita sudah mulai trekking. Harga tiket masuknya saya lupa. Dan disana sudah banyak guide yang setengah maksa mau antar kita sampai atas dengan biaya seingat saya Rp. 150.000. Dan kita kekeuh gak mau pakai guide karena yakin pasti bisa sampai atas dengan modal doa dan senter. Hehehe..
Jalan setapak demi setapak, udara dingin sudah gak berasa lg karena badan yg mulai panas karena keringetan. Dalem hati seneng juga nih kali aja pas turun nanti timbangan bisa geser ke kiri beberapa kilo. Hehehee..
Trekking disini harus hati-hati karena jalannya licin banyak kerikil-kerikil kecil, gelap gulita dan jangan sampai salah langkah, salah-salah bisa masuk jurang. Sepanjang perjalanan beberapa kali ketemu orang yang saling tegur dan kasih semangat.
Oia, disini ada juga jasa porter yang mau angkut pengunjung pakai gerobak sampai keatas. Cuma klo saya gak tega aja lihat bapak-bapak itu dorong orang yang mau keatas setengah mati usahanya demi rupiah. Mending kalian yang gak mau capek ya gak usah kesini mending enak jalan-jalan di Monas aja kaka..
Dan akhirnya tiba juga di puncak gunung. Bau belerang udh mulai menyengat. Untuk lihat Blue Fire kita harus turun nyusurin jalan tangga setapak bebatuan yg curam dan lumayan ngeri kurang lebih 500 meter. Kalo kalian mau turun lihat Blue Fire bisa sewa masker khusus gas seharga Rp. 20.000. Yah jaga-jaga biar gak sesak nafas nanti dibawah sana. 

Salah satu Masterpiece ciptaan Tuhan nih, Kawah Ijen - Banyuwangi


Trekking Menuju Kawah Ijen, curam dan bikin kaki gemeter :)

Pria-Pria Tangguh Pemikul Belerang
Sepanjang jalan setapak itu kita akan ketemu bapak-bapak yg ngangkut belerang bisa sampai 70 kilo sekali pikul. Dan saya sedih banget lihat mereka karena begitu susahnya mereka cari uang sampai harus bertaruh nyawa kaya gitu. Jadi inget klo saya sering banget buang nasi padahal mereka kerja sekeras itu salah satunya ya buat beli beras. 
Huhuhuhuhuu..*pukpukpuk..


Sayang banget waktu saya kesana Blue Fire-nya gak kelihatan karena ketutup kabut. So sad! Yah mungkin pertanda suatu hari nanti saya harus balik lagi 😊
Dan matahari sudah mulai nongol malu-malu. Sepanjang jalan turun gunung kita baru sadar indah banget jalanan yang kita lalui subuh tadi. Kiri kanan gunung yang sebagian tertutup kabut. Udara sejuk, pemandangan indah, kurang kopi nya mana kopiiii..hehehe..
Susahlah mendeskripsikan indahnya pemandangan didepan mata. 
Pemandangan Selama Trekking Turun Gunung

 
Pemandangan Selama Trekking Turun Gunung
- Pulau Menjangan - Bali Barat
Puas lihat Kawah Ijen, kita langsung menuju Pantai Watudodol untuk Snorkeling di Pulau Menjangan - Taman Nasional Bali Barat. Kata 'Menjangan' sendiri memiliki arti Rusa, tapi sewaktu kami disana, gak satupun rusa yang terlihat. Konon katanya populasi rusa-rusa disini semakin menurun, entah karena apa. Sesampainya di pantai Watudodol kita cari boat yang bisa disewa selama kurang lebih 4 jam dengan biaya Rp. 1.000.000,- buat antar kita nyebrang ke Pulau Menjangan. Bersyukur ketemu guide yang tahu spot bagus untuk snorkeling, dan kita puas lihat cantiknya terumbu karang, lucunya kawanan ubur-ubur sampai ikan-ikan yang saya gak tahu namanya. Mungkin senang ada makhluk lain yang ikutan berenang, sampai kita disengat ubur-ubur centil dan bikin badan kita bentol-bentol. Makasih ya..ubur-ubur..
Tapi sayang banget memory kamera underwater yang kita pakai rusak, jadi sia-sia lah kita  jungkir balik di laut ternyata fotonya gak ada yang jadi. Hahahaa..tragis.
Perahu Carteran - Menuju Pulau Menjangan
 
Sampai juga di sebrang pulau Jawa, Pulau Menjangan - Taman Nasional Bali Barat


Sore hari kita balik ke homestay untuk ambil tas dan pulang ke Jakarta. Holiday is over..menyisakan pegel-pegel sekujur tubuh.






Sabtu, 03 Oktober 2015

Wisata Gunung Kidul dan Kalibiru

Bosen liburan di Jogja karena semua tempat udah pernah didatengin, Candi Borobudur, Prambanan, Malioboro, Taman Sari, dan seabrek objek wisata di Jogja lainnnya dan pengen suasana liburan yang berbeda dari yang ditawarkan kota Jogja? Gunung Kidul!.

Ternyata Gunung Kidul yang selama ini saya tau tandus, gersang dan susah air, menyimpan pesona alam yang luarrrrrr biasa. Sebut saja Goa Pindul, Goa Kalisuci, Goa Jombang, dan masih banyak lagi..atau yang suka wisata pantai, disini surganya..dari mulai yang sudah baik infrastrukturnya seperti Pantai Indrayati, Pantai Baron, Pantai Wediombo, sampai pantai yang sepi tak berpenghuni seperti Pantai Jungwok dll..

Banyak hal yang bisa menyenangkan hati disini, selain jalanan yang bagus dan harga-harga yang masih sangat murah, baik penginapan, HTM objek wisata dan kuliner pun ramah dikantong. Cocok buat saya yang low budget traveller nih..hehehehe..

Saya dan ke-4 teman baru saja liburan di Gunung Kidul dan Kalibiru, Kulon Progo tanggal 10 - 14 September 2015 lalu. Kami naik kereta Progo dari Ps. Senen menuju St. Lempuyangan, Jogja yang berangkat dari Jakarta jam 22.30 malam dan sampai Jogja jam 07.00 Pagi. Disana kita sudah ditunggu supir mobil rental yang disewa selama 3 hari, karena gak ada kendaraan umum yang bisa menjangkau lokasi-lokasi wisata di Gn. Kidul akhirnya kami sewa mobil.

1. Goa Kalisuci, Gn. Kidul
Dari Jogja kita langsung menuju Goa Kalisuci kurang lebih 1.5 - 2 jam. Sampe di Kalisuci ternyata sepi banget hanya ada 2 orang bule yang mau cave tubing..dan akhirnya kita seru-seruan bareng..duh enak banget berasa itu goa punya sendirilah..hahahaha..
HTM Rp. 70.000/orang sudah termasuk sewa ban, pelampung, helm, deker kaki dan tangan.
Menyusuri goa yang dialiri sungai dengan ban atau istilah kerennya Cave Tubing ini memakan waktu kurang lebih 2 jam. Mirip-mirip kaya rafting di sukabumi cuma bedanya ini di dalam goa dan sungainya sempit jadi kalo ban nyangkut dibatu dan kaki biru-biru sedikit mah biasa..
Goa Kalisuci

2. Air Terjun Sri Gethuk, Gn. Kidul
Karena emang dari Jakarta kami belum mandi dan langsung basah-basahan di Kalisuci, gak pake bilas-bilas, kami langsung menuju Air Terjun Sri Gethuk yang berjarak kurleb 15 kilo dari Kalisuci dan ditempuh kurleb 30 menit. Di pintu masuk kami ditawarkan 2 pilihan, kalo tiket masuk aja Rp. 10.000/orang, kalo mau ambil paket Rp. 45.000/orang (termasuk naik sampan menuju air terjun, dan sewa pelampung). Tapi karena saya bawa satu orang temen yang udah emak-emak pasti ga betah klo ga pake nawar, akhirnya kita cuma bayar Rp. 40.000 / orang..tiket ditawar juga macam emak-emak belanja di pasar..hehehehe...
Naik sampan menuju air terjun kurang lebih 250 meter dan pulangnya kita bisa pilih mau naik sampan lagi atau mau berenang, dan kebetulan waktu itu kami pilih berenang gaya-gayaan aja ternyata 250 meter kalo di aer mah jauh banget ya..hahahahahaha..
Kedalaman sungai sekitar 5-6 meter dengan air berwarna hijau yang indah banget. Begitu sampe dipinggir kami istirahat di warung yang jual tempe mendoan dan rekan-rekannya, sambil goreng-goreng si mbak yang punya warung cerita kalo sehari sebelum lebaran kemarin ada yang mati tenggelem. Jeng..jengggg..untung ceritanya pas kita udah mau pulang, kalo masih di air mah pasti udah kisut-kisut ni hati :D

3. Pantai Wediombo dan Pantai Jungwok
Hari ke - 2 tujuan kami adalah pantai. Jarak dari penginapan kami di Wisma Joglo, Wonosari ke jejeran pantai selatan cukup jauh dengan jalanan yang berliku-liku dan pas untuk dua mobil. Beneran paaaaas gak ada lebih-lebihnya..jadi harus hati-hati nyetirnya karena jalanan yang berliku-liku, naik turun dengan pemandangan pohon-pohon kekeringan. Jangan lupa isi bensin dulu karena saya gak nemu SPBU di sepanjang jalan menuju pantai selatan ini. 
     Jalanan mulussss dan sepiiiii menuju Pantai Wediombo

Setelah menempuh 1,5 jam kami sampai di Pantai Wediombo. HTM waktu itu Rp. 20.000 untuk 5 orang+mobil. Dari jauh lihat deburan ombak pantai Wediombo udah bikin merinding karena pantai-pantai disini langsung berbatasan dengan Samudera Hindia makanya ombaknya dahsyat dan pengunjung sama sekali gak dibolehin untuk berenang di hampir semua pantai selatan. Pantai Wediombo punya garis pantai yang panjang dan infrastrukturnya udah lumayan baik, ada toilet umum, dan beberapa warung makan. Setelah puas duduk-duduk manis di Wediombo, kami beranjak untuk pindah lokasi pikniknya ke Pantai Jungwok. Di perjalanan menuju pantai Jungwok kami beli nasi jagung dengan lauk pecel dan aneka gorengan seharga Rp. 5.000. Wha...murah..muraaah..
Dari Pantai Wediombo ke Pantai Jungwok ditempuh sekitar 15 menit dengan mobil dan kita gak perlu bayar lagi karena masih satu lokasi dengan Wediombo. Jalanan berpasir yang bikin mobil jadi dekil dan kucel sebanding dengan pemandangan pantainya. Subhanallah, indah banget ini pantai. Gak ada pengunjung lain, bener-bener kaya private beach. Gemes liat pantai sepi begini, kita bisa guling-gulingan kalo mau mah. hehehe..Duduk dibawah pohon sambil makan nasi jagung dengan semilir angin dan suara deburan ombak, dan cuma ada kita ber-5 rasanya luarrrrr biasa (langsung kebayang klo piknik di Ancol yang sesek sama pengunjung lain).
 Penampakan Pantai Jungwok
                                       
4. Sungai Oyo, Gn. Kidul
Puas berleha-leha di pantai, kami kembali ke Wonosari dan menuju desa Bejiharjo untuk River Tubing di sungai Oyo yang masih satu lokasi dengan Goa Pindul. Jarak dari jejeran pantai selatan kembali ke Wonosari sekitar 1.5 jam dengan jalan yang berliku-liku. Biaya untuk River Tubing Rp. 45.000/orang waktunya sekitar 1.5 - 2 jam. Mengarungi tenangnya sungai Oyo sambil duduk diatas ban enak banget, cuma sayang waktu kami kesana airnya lagi surut karena udah lama gak hujan jadi airnya gak ngalir, mungkin ini yang bikin badan kami gatel-gatel, jadilah semaleman kita lomba garuk-garuk..hahahahaaa..
Wisata Goa Pindul dan Sungai Oyo ini bisa sampai jam 8 malem kalo sedang musim liburan, tapi saya heran sama yang mau sampe malem disini, apaaaaa juga yang mau dilihat...
Sungai Oyo
                                                       
5. Kalibiru, Kulon Progo
Hari ke - 3 waktunya pulang..
Jam 6 pagi kita udah ninggalin Wonosari menuju Kulon Progo. Saya pasang Waze karena gak tau jalan. Untuk menuju Kulon Progo, kita harus melewati Jogja, waktu tempuh dari Jogja menuju Kulon Progo sekitar 1.5 jam. Jam 9 pagi kami udah sampai di Kulon Progo. Sampai di Pos masuk menuju Kalibiru, kami disambut oleh penjaga pos yang ngasih informasi mengenai jalanan yang akan dilalui menuju Kalibiru. "Mba yakin ya mau naik? jalanannya untuk satu mobil, sempit, nanjak dan berliku-liku loh. Bisa ya?? Kalo yakin mau naik saya info petugas diatas untuk tutup jalur turunnya karena ini diberlakukan buka tutup." Wah penasaran kayak apa hebohnya ni jalanan sampe di warning begitu. Kita yang tadinya berisik di mobil, mendadak sunyi senyap karena tu bapak bener juga ini mah bukan maen nanjaknya..ngeri-ngeri sedap karena di kanan pemandangan bagus plus jurang tanpa pembatas. Mantaplah..mobil harus prima ya jangan yang rajin mogok diajak kesini. hahahaha.. 
HTM Kalibiru Rp. 10.000/orang. Kalo mau naik ke gardu pandang, pengunjung dipungut biaya Rp. 10.000/orang. Ada jasa foto juga disana buat yang gak bawa kamera. Tinggi gardu pandang kurang lebih 4-5 meter. 
Gardu Pandang, Kalibiru

Kulit udah geseng, badan udah pegel, sekarang waktunya pulang...
Langsung menuju terminal Jombor karena kita udah beli tiket bus executif Prayogo Rp. 180.000 yang berangkat dari Jogja jam 4 sore dan sampai Jakarta jam 5 subuh. 
Total biaya Perjalanan  Kamis - Minggu (3D2N) Rp. 850.000,- sudah termasuk tiket, makan dan penginapan. Biayanya ternyata underlimit dari budget saya yang 1 juta..asyik..asyiiiik..liburan murah meriah tetap sumringaaaah...

Minggu, 02 Agustus 2015

Asyiknya Jalan-Jalan ke Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo

Murah gak berarti murahan!
Liburan gak mesti mahalkan..

Saya mau sharing pengalaman saya jalan-jalan ke Gunung Dieng, Jawa Tengah bulan Februari lalu.
Ceritanya karena ada temen SD yang berjodoh dengan Gadis asal Jogjakarta (SD aja masih temenan ya..hahaha..), kami berencana kondangan ke Jogja, ngobrol ngalor ngidul via Whatsap dan ujungnya malah punya rencana jalan-jalan ke Gn. Dieng.

Kami pergi tanggal 5-8 February 2015 (Kamis - Minggu), hari Kamis pulang kerja saya janjian ketemu dengan ke-3 temen SD yang udah beberapa tahun gak ketemu di Stasiun Senen. Kami naik kereta Progo Rp. 125.000,- yang berangkat jam 22.00. Kami tiba di Stasiun Purwokerto jam 04.00 subuh. Sambil nunggu subuh, saya ngobrol dengan seorang ibu yang juga punya tujuan ke terminal Purwokerto, akhirnya kami sewa mobil Avanza untuk antar ke terminal seharga Rp. 50.000 karena angkot baru beroperasi jam 5.30 itupun rutenya mbelibet jadi makan waktu. Stasiun Purwokerto - Terminal Purwokerto cuma 20 menit.

Sampe di terminal kami naik bus 3/4 menuju Wonosobo, tarifnya Rp. 30.000/orang. Naik bus ini dalam keadaan super ngantuk enak banget, sambil tidur dan sesekali melek lihat sawah, sungai, dan sambil kejedot-jedot dikit, ishhhh enak banget :D Lama perjalanan Purwokerto - Simpang Wonosobo sekitar 3 jam. 
Dari Simpang Wonosobo, ganti bus 3/4 lagi, kali ini tarifnya Rp. 20.000 dan ditawar sama temen saya jadi Rp. 15.000 (hahahaha..) abangnya terima-terima aja tu duit sambil nyengir kuda. Dalam waktu kurang dari 1 jam, kami sampai di dataran tinggi Dieng, dan pas banget diturunin di pertigaan depan penginapan 'Bu Djono'. Wah, ternyata ada yang sekamar Rp. 70.000 untuk 2 orang. Cocoklah, murah meriah. Ada fasilitas hot water, rental mobil (Rp. 400.000 / 2 hari + supir) dan motor (Rp. 150.000 / hari), dan ada rumah makannya di lantai 1.
Abis mandi n bedakan, kita langsung cari sewaan mobil dan jalan-jalan keliling Dieng Plateu.

1. Telaga Warna
HTM nya klo gak salah Rp. 5.000. Pas lagi disini hujan deres banget, jadilah kita jalan sambil bawa payung sewaan (Rp. 5.000) gak asyik bangetlah..


2. Kawah Sikidang

HTM kurlebnya juga Rp.  5.000. Waktu kami kesini, lagi sepi banget rasanya cuma kita ber 4 pengunjungnya. Bau belerang luar biasa, ada banyak letupan air mendidih disini, nah buat yang jerawatan bisa cobain panasin batu di letupan air mendidihnya trus usapin ke muka, insyaallah jerawatnya bisa berkurang atau malah nambah karena batunya kotor. hehehe..


3. Dieng Theatre
Waktu kami kesini kebetulan Theaternya tutup karena alatnya lagi rusak (yahelaaaa..), tapi gak apalah, ada taman yang bagus disini, banyak bunga-bunga dan kita bisa lihat wilayah Dieng dari ketinggian.

4. Kompleks Candi Arjuna
HTM kurleb Rp. 5.000 juga. Seperti candi kebanyakan lah ya, yang menarik justru kentang goreng yang dijual di warung-warung di parkiran Kompleks Candi Arjuna, karena Dieng terkenal sebagai penghasil kentang dan buah Carica (pepaya imut-imut khas Dieng).

Karena udah mulai gelap, kami balik ke penginapan untuk persiapan besok subuh ke Bukit Sikunir. Malam hari di Dieng dingin banget, apalagi kamar yang seharga Rp. 70.000 itu dindingnya terbuat dari triplek, aiiiih macam di bedenglah ya, mungkin begini ya rasanya klo orang-orang yang tidur di bantaran kali lagi kedinginan di musim hujan.

5. Bukit Sikunir
Jam 3.30 subuh kami udah dijemput mobil sewaan untuk menuju Bukit Sikunir. Ya ampun bener-bener gelap, jalanan rusak, lewatin jalanan yang kiri kanannya alang-alang, klo orang hamil lewat sini mungkin bisa beranak di jalan :b. Jam 4 subuh kami sampai di parkiran Bukit Sikunir, dan masih harus lanjut lewat jalan setapak untuk sampai di puncak bukit, kalo orang normal mungkin 20 menit udah bisa sampe, tapi karena kami gak pernah olahraga, jadi cukup 40 menit kami bisa sampai diatas. Bener-bener gelap banget, cuma ngandelin satu lampu senter. Wah, tapi worthed lah capek bgini juga bisa liat sunrise yang bagus.


Jalan setapak di Bukit Sikunir yang liciiiiin dan berkabut dimusim hujan.


Genk Kue Cubit : Asti, Saya, Rini, Selvy.

5. Batu Ratapan Angin
Nah, dari sekian banyak objek wisata di dataran tinggi Dieng, tempat ini yang paling saya suka. Selain sepi, saya bisa lihat Telaga Warna tanpa harus terganggu dengan pengunjung lain. Bisa lihat pemandangan bagus tanpa usaha ektra, karena dari parkiran hanya perlu waktu 3 menit jalan kaki ke tempat ini.


Darisini kami langsung kembali ke penginapan untuk bersih-bersih karena harus melanjutkan perjalanan ke Jogja untuk menghadiri resepsi si Panjul. Duh, pengorbanan banget nih kondangan sampe ke Jogja. hehehe..demi si Panjul.

Oia, sekedar informasi, total biaya untuk perjalanan saya kemarin kurang dari Rp. 600.000,-. Duh bener-bener jalan-jalan murah, meriah, sumringah lah pokoknya..hahahaha..
Segini dulu ya sharingnya, semoga bermanfaat..Ciaobelaaa..


Senin, 20 Oktober 2014

Buat VISA SCHENGEN di Kedutaan Belanda

Mau jalan-jalan ke Eropa, jangan lupa persiapkan Visa Schengen anda.

Visa Schengen berlaku di 26 negara Eropa. Jadi dengan visa tersebut anda bebas keluar masuk negara-negara Eropa  seperti Austria, Belgia, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Perancis, Jerman, Hongaria, Itali, Yunani, Latvia, Lithuania, Luksemborg, Malta, Belanda, Polandia, Portugal, Slovakia, Slovenia, Spanyol dan Swedia, Swiss, Norwegia, Liechtenstein dan Islandia.


Ke kedutaan mana harus apply Visa Schengen?
Di kedutaan negara tempat anda terlama berada atau di negara anda masuk pertama kali ke wilayah Eropa. Tapi menurut cerita, paling mudah apply visa di kedutaan Belanda.


Gimana cara buatnya?
Jika mau apply visa di kedutaan Belanda dan gak ingin ribet, bisa hubungi pak Suryono di 081511463929. Beliau adalah salah satu agent resmi yang ditunjuk kedutaan Belanda untuk pengurusan visa Schengen.
Jika ingin punya pengalaman sendiri, ya bisa urus sendiri. Ga sulit kok asal sabar.
Pertama, anda harus rajin memantau jadwal untuk buat online appointment di web resmi kedutaan Belanda: http://indonesia-in.nlembassy.org/. Susah-susah gampang untuk mendapatkan appointment, coba cek  jadwal setiap jam 5 atau 6 sore karena sekitar jam tersebut dibuka jadwal untuk appointment 2 minggu kedepan. 

Setelah dapat appointment, anda harus mengisi form aplikasi pengurusan visa yang dapat di download di: http://www.minbuza.nl/en/appendices/services/consular-services/visa/visas-for-the-netherlands-schengen-visas/applying-for-a-schengen-visa/visa-application-form-schengen-2011.html. Form yang sudah diisi lengkap harus disertakan dalam dokumen-dokumen yang dipersyaratkan untuk pengurusan visa. 

Dokumen yang harus dipersiapkan untuk pembuatan Visa Schengen, sbb:


1. Paspor
Paspor harus berlaku minimal 3 bulan dari saat keluar dari wilayah Schengen.

2. Pas foto
Pasfoto harus sesuai dengan persyaratan untuk membuat paspor Belanda.

3. Harga visa
EUR 60 untuk orang berusia diatas 12 tahun, EUR 35 untuk anak-anak berusia antara 6       sampai 12 tahun (dibayar dalam rupiah dengan kurs yg ditentukan kedutaan).

4. Formulir permohonan
Diisi lengkap dan dua kali ditandatangani (pada halaman 2 dan 3).

5. Asuransi perjalanan 
Asuransi perjalanan harus berlaku untuk seluruh periode perjalanan di wilayah Schengen dengan minimal nilai pertanggungan €30.000,- termasuk pengobatan – dan biaya                repatriasi. Copy polis harus dilampirkan dalam permohonan, polis asli harus diperlihatkan.

6. Bukti keuangan
Jika pemohon visa membiayai sendiri perjalanannya maka diwajibkan mempunyai       minimal €34 perhari.
Sponsor di Belanda mempunyai minimum penghasilan dan berlaku 12 bulan kedepan       saat permohonan visa diajukan. 
Bukti keuangan dapat dibuktikan dalam bentuk foto copy dari rekening bank/ buku bank 3 bulan terakhir dan/ atau slip gaji 3 bulan terakhir beserta surat keterangan kerja.

7. Reservasi penerbangan
Pada reservasi penerbangan harus tertera dengan jelas  tanggal pergi dan pulang, tetapi     tidak harus dibayarkan terlebih dahulu. Anda disarankan tidak membayar sebelum visa         disetujui.

8. Bukti pemesanan hotel
Bukti pemesanan hotel selama berada diseluruh wilayah Schengen.


Pengalaman saya mengurus visa sendiri cukup bikin deg-degan. Saya dan 2 orang               teman sudah beli tiket 4 bulan sebelumnya karena waktu itu ada tiket murah. Maklumlah       kami kan 'Low Budget Travellers', gak tahan liat tiket murah. Hehehe..

Beli tiket sebelum visa keluar sangat tidak disarankan kecuali untuk anda yang nekat seperti kami. Karena resiko visa tidak di approve walau tiket sudah ditangan.

Cukup sulit dapat appointment untuk grup, karena waktu itu kami apply visa untuk 6 orang. Pastikan koneksi internet harus bagus supaya bisa dapat appointment bersamaan.
Hasil perburuan selama beberapa hari membuahkan hasil. Kami dapat appointment tanggal 6 Agustus 2014. 
Jam 7.30 pagi kami sudah datang ke Kedutaan Belanda yang beralamat di  Jalan HR Rasuna Said Kav. S-3 Jakarta 12950.

Kami mulai antrian berbaris di depan kedutaan. Tepat pukul 8, security mempersilahkan bagi yang memiliki appointment jam 8 pagi untuk masuk kemudian melewati security screening. 
Satu hal penting yang harus diingat, matikan atau silent handphone kalo gak mau diteriakin pake toa sama securitynya karena dimana-mana memang terpampang jelas gambar dan tulisan "Dilarang menggunakan HP".


Oia, di dalam kedutaan ada jasa pas foto juga lho seharga Rp. 50.000. Ada pula jasa fotocopy atau print dengan tarif Rp. 5.000 /lembar apabila anda lupa membawa salinan dokumen yang diperlukan. Jangan lupa daftarkan ulang nama anda kepada petugas yang ada di ruang tunggu. Pastikan anda tidak terlambat, karena jika terlambat anda akan disuruh pulang dan buat appointment baru. Petugas disana sangat disiplin karena mereka bekerja diawasi oleh konsuler dari kedutaan itu sendiri. Bahkan ketika kami disana, ada seorang ibu yang ngamuk karena gak diijinkan masuk untuk interview karena datang terlambat. Jadi, penting sekali untuk datang lebih awal.
Baiklah akhirnya tiba juga giliran kami masuk ke dalam ruang interview. Ooooh ternyata di dalam masih ada sekitar 30 kursi lagi untuk mengantri.
Ok harus tetap sabar klo bgitu..

Pertanyaan yang diajukan petugas standarlah, seputar "Kamu kesana mau ngapain?", "Kerja dimana?", "Kok bisa cuti lama begitu, emang ga diomelin sama bosnya?", "Kantor kamu bergerak di bidang apa?", "Rumah kamu dimana?", "Kamu udah nikah belom?", "Kamu mau gak jadi pacar saya?", hehehe..klo yang terakhir sih pastinya bohongan ya :b

Di akhir wawancara petugas memberi informasi bahwa besok kami disuruh kembali lagi untuk ambil visanya jam 3 sore (bisa diwakilkan atau diambil oleh salah seorang saja).
Well, alhamdulillah Visa kami ber 6 keluar semua. Dan kami siap ngebolang di negeri orang. Hehehehe..

Begini penampakan Visa Schengennya: 


Cerita Eropa nya nyusul yaaaaa..
Sekian informasi dari saya, semoga berguna yaaa teman-temin..

Minggu, 10 Agustus 2014

Buat SIM Internasional

Hari Jumat tgl 8 Agustus 2014 kemarin saya dan seorang teman baru saja membuat SIM Internasional.
Wah luar biasa pelayanannya bagus sekali, jika semua persyaratan lengkap, hanya butuh waktu 10-15 menit saja.
Lokasi pembuatan SIMnya ada di jalan MT. Haryono, Jakarta. Jika dari arah Cawang, setelah melewati Carefour MT. Haryono tidak jauh dari situ ada Menara Hijau, lurus terus kira-kira 200 meter disebelah kiri ada gapura KORPS LALU LINTAS POLRI. Nah disitulah lokasinya.
Lokasi persisnya beratapkan warna biru dan persis disebelah masjid.
Anda perlu ambil nomor antrian terlebih dahulu, tapi tidak usah khawatir karena sepi sekali jadi kemarin saya kesana sama sekali tidak ada antrian. Setelah itu serahkan berkas yang diminta, sbb:
1. Asli & fotokopi KTP
2. Asli & fotokopi SIM A (masih berlaku)
3. Asli & fotokopi Paspor (masih berlaku)
4. Foto 4x6 (3 lembar) latar BIRU
5. Uang tunai Rp. 250.000 untuk buat baru dan Rp. 225.000 untuk perpanjangan.
Nanti anda akan diminta untuk mengisi formulir yang berisi biodata dan negara sementara tempat anda tinggal. Karena saya ingin berkunjung ke rumah tante saya di Belgia maka saya tuliskan Belgia sebagai negara sementaranya.
Setelah selesai isi formulir, anda akan dipanggil untuk foto untuk disimpan sebagai dokumen mereka.
Sedangkan foto ukuran 4x6 yang anda berikan akan ditempel di SIM Internasional anda, jadi pastikan foto dalam kondisi yang enak dilihat ya. Hehehe.. karena SIM berlaku untuk 3 tahun.
Sebagai tambahan info, kantor buka Senin sampai Jumat dan tutup selama jam istirahat. Jam 12 tutup dan buka kembali jam 1 siang.

Dan bentuk dari SIM Internasional itu sendiri ternyata tidak seperti yang ada dalam bayangan saya, lebih cocok disebut buku harian sepertinya karena ukurannya lumayan besar dan gak bisa masuk dompet. 

Begini penampakan SIM Internasional-nya




 Tidak ada tes lagi seperti membuat SIM A atau C.
Sekian sharing info dari saya semoga berguna buat teman-teman yang ingin bikin SIM Internasional ya. Good luck!